Hari ini hari kedua aku berada di Semarang, menikmati liburan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin hari ini hari yang kurang baik bagiku, kuawali sahur pagi ini dengan tergesa karena baru bangun jam 4 pagi sedang imsak kurang 15 menit lagi. Tak buang waktu langsung bergegas, alhasil menu sahur pun amblas ke perut. alhamdulillah...he,,,e
Usai sahur aku bergegas dan mengajak adek untuk pergi ke Langgar (sebutan Mushola di kampungku) untuk menunaikan sholat subuh berjamaah... usai sholat kulanjutkan dengan mentadaburi ayat-ayat cinta dariNya.... sungguh sejuk hati ini..
Sang surya mulai terbangun ketika aku menyiapkan barang yang akan dibawa ke warung untuk dijual, y ibuku punya warung nasi yang cukup ramai dan sebagian dari penghasilan itulah yang aku gunakan untuk biaya sekolahku di Bogor. Maka tak ada alasan bagiku untuk tidak membatu disana..lagian aku juga sudah kangen dengan langganan ibu yang dulu suka bercanda dan berbagi pengalaman hidup denganku... Sampai di warung, berbenah, dan menyiapkan makanan yang usai dimasak..semua tertata rapi... tak lupa warung kami tutup dengan kain di bagian pintu dan celahnya agar tak terlihat orang dari luar.. Meki kami berjualan, kami juga harus menghargai UmatNya yang berpuasa, jadi kami harus benar2 menjaga agar tak mengganggu orang lain..
Godaan makanan amat berat terlebih aku juga berpuasa,, namun alhamdulilah sampai siang ini aku sama sekali tak tergoda dengan tampilan dan bau masakan ibu yang paling enak sedunia... aku bersyukur Allah masih menguatkan hatiku. Semoga Dia menguatkan aku hingga hari kemenangan tiba. Karena sungguh dialah yang maha Kuat dan menguatkan..
Singkat cerita hari sudah beranjak siang, bahkan akan bergegas menjemput sore.. aku masih disana karena sudah nyaman dan tak mau untuk bersegera pulang, terlebih langganan yang aku sebut tadi pada datang.. seru banget disana.. sampai akhirnya mereka pulang..
Tak lama setelah ku bereskan meja dari gelas dan piring datanglah ibu2 yang membawa gembolah dan dibalut jarik (sejenis selendang batik yang biasanya digunakan ibu2 menggendong barang bawaan saat kepasar)... dari gaya berpakaianya aku tahu dia adalah (maaf) peminta-minta yang biasa berdiri di tengah portal lampu merah dekat warung sembari berjalan menghampiri pengguna mobil dan berharap receh akan di dapatkanya untuk bekal makan dan membeli kebutuhan hidup terlebih menjelang Lebaran.
Aku persilahkan duduk dan dia memesan makanan nasi Rames separuh... dengan cekatan ibu mengambilkanya... Itulah yang aku bangga dari ibuku, dia tak pernah membedakan pembeli. Siapa saja yang masuk ke warung, pasti akan dilayani dengan baik, meski hanya sekedar tanya atau pinjam korek api untuk menyalakan rokok. Sembari memperhatikan ibu itu, aku mengambilkan minum untuknya.. kemudian dia makan dengan perlahan..
Aku dan ibu duduk di sisi lain dari meja warung, saat itu aku dan ibu membicarakan tentang rencana mudik besok, kepastian hari dan keberangkatan hingga pulang. saat sedang asik bergurau, datang langganan ibu yang biasa beli lauk olahan Cumi-cumi. Kata ibu dia ga akan mau makan cumi2 kalau bukan dari warung kita. Agak aneh sih, bukanya yang namanya masakan cumi itu sama?, mungkin masakan ibu punya ciri khas yang beda dari yang lainya.
Sembari melayani, langganan ibu itu mengajak ngobrol sembari menunjuk kearah orang yang sedang makan yang tak lain adalah peminta2 tadi. Dia katakan "Njaluk2 kok nggowone HP..." ibu yang mendengarnya hanya tersenyum "Mbok wis ben to yu...". Usai dilayani oleh ibu, dia menyodorkan uang 7rb sembari pamit pulang dan berkata dengan bahasa isyarat mimik yang aku tangkap sedemikian "sing sabar karo simbok iku" sembari menunjuk kearah ibu2 yang sedang makan itu. Kemudian dia pamit pulang dan menepuk pundakku.. lalu keluar dari warung kami..
Usai dia keluar aku tanya, siapa... ibu menjawab "Itu yang punya warung juga di ujung sana..". "Oow... jawabku.
Tak lama berselang ibu setengah tua itu selesai makan, "Piro iki...". "Tambahe nopo mak?" jawab ibu. "Sego separo, ngombe, tambahe tahu goreng". "Patangewu limangatus (Rp 4500) mak", jawab ibu lagi. Sungguh diluar dugaanku, dengan nada tinggi Ibu2 setengah tua itu marah-marah "Opo to ki, mangan gor koyok ngene wae larang men, kowe dodolan kok larang men to, biasane aku nek mangan neng endi-endi mung telungewu (Rp 3000), larang men to...!!!". Sontak aku kaget.
Belum sempat aku mencerna kata2 ibu2 itu ibuku langsung menjawab "Wis mak, gawanen wae dhuwite nek ga gelem bayar, aku iklas, wis gawanen wae". Aku yang ada disana hanya diam. "Dodolan kok larange rak karuan, mangen sego separo wae kok larang, biasane aku nek mangan neng ngendi- ngendi mung telungewu", dengan menggebu ibu2 setengah tua tadi marah dan megulangi kata-katanya yang tadi diucapkan. "Wis mak gawanen ae dhuwite, aku ora opo-opo, aku iklas" ibuku menjawab dengan cuek, mungkin karena terlanjur jengkel.
Orang itu pergi setelah meninggalkan 4 keping uang Rp500, 2 keping uang Rp 200, dan 6 keping uang Rp 100. Yah, semuanya jadi Rp 3000, tak kurang pun tak lebih.Tak menunggu perintah segera aku bereskan piring dan gelas bekas peminta-minta tadi.
Sembari duduk aku bertanya " Buk, emang nek maem sego rames iku piro?" "Rp 5000" jawab ibu. "Lha nek tahu piro regane?" tanyaku lagi. "Rp 1000" jawab ibu pendek. Untuk minumnya aku tau, harga teh manis disini Rp 1000. Sejanek ku berpikir seharusnya dengan menu itu di harus bayar Rp 4500 seperti yang di katakan ibu.. tapi apa yang di lakukan?? eh malah kayak gitu, marah-marah pula.. "Lha iyo, gawanane wae HP, lha kok mangan neng warung ditarik papat setengah (Rp 4500) wae kok ngomel-ngomel", keluh ibu dengan nada jengkel. Aku yang mendengarnya hanya terdiam, bingung harus bersikap.